INILAH.COM, Jakarta – Indonesia dinilai potensial menerapkan teknologi broadband Long Term Evolution (LTE) 4G dua hingga tiga tahun lagi. Namun apakah teknologi ini linear dengan penurunan tarif internet?

Teknologi broadband di Indonesia diramalkan akan berkembang pesat dalam beberapa tahun mendatang termasuk dengan lahirnya LTE. Indonesia menjadi salah satu daya tarik industri telekomunikasi dunia. Apalagi secara budaya Indonesia bisa dengan mudah menerima teknologi baru daripada wilayah lain di Asia Pasifik.

“Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia juga sangat tinggi dengan dukungan pemerintah yang kuat,” ujar Head of Marketing & Corporate Affairs Sub Region Indonesia Nokia-Siemens-Networks, Harith Menon ditemui di Jakarta Senin (24/5).

Ia memaparkan, jika diperhatikan dengan seksama, Indonesia tidak berbeda dengan Eropa atau Amerika. Melihat urutan lima besar ranking situs yang dikunjungi di internet, ada kesamaan pola.

Ini artinya dalam terminologi adopsi yang ada di Eropa atau Amerika bisa dibawa ke Indonesia. Tentunya akan menjadi teknologi terlokalisasi yang berguna bagi Indonesia

Melihat potensi besar, Nokia-Siemens-Network (NSN) sebagai vendor penyedia solusi broadband dunia juga menyatakan tidak akan mundur meskipun bersaing dengan Ericsson. NSN masih akan bertahan di industri jaringan pita lebar (broadband) telekomunikasi di Indonesia.

“Kami melihat bisnis ini masih akan berkembang di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Jadi kami masih akan bertahan di sini (Indonesia) dengan solusi lebih baik,” tandas Harith.

Nokia-Siemens-Network memang belum bisa memastikan kapan LTE bisa diterapkan, namun mengingat target pemerintah tentang penetrasi broadband 20% di 2012, menurut para ahli masa depan LTE akan cerah.

“Kami melihat ada peluang masuk melalui operator, media, komunitas dan regulator untuk mengedukasi dan menerapkan LTE. Mereka semua memainkan peranan penting dalam teknologi broadband sekaligus posisi Indonesia saat ini dan akan bergerak kemana di masa depan. Kami ingin sekali berbagi informasi mengenai kegunaan broadband,” tambah Harith.

Harith memandang di 2010 memang masih dalam status sangat awal bagi Indonesia untuk broadband. Fokus yang dibutuhkan untuk diterapkan sebuah teknologi menurutnya adalah ekosistem yang terdiri dari adopsi massal, kesiapan pasar dan gadget pendukung.

Karenanya, NSN akan terus mendorong dengan berbagai cara seperti riset dan pengembangan, program edukasi, corporate-social-responsibility (CSR) dan tanggung jawab operator.

Di 2011, ia melihat lebih banyak orang tertarik dengan teknologi broadband melalui hotspot. Operator juga fokus kepada kualitas pengguna. Demikian pula konten dan aplikasi yang akan mendukung smartphone lebih canggih.

Sementara pengamat telekomunikasi Budi Raharjo menyampaikan LTE memang telah dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang namun dia mengingatkan masyarakat agar dengan teknologi canggih jangan hanya menjadi konsumen melainkan juga bisa menjadi produsen.

“Kalau dari segi teknologi memang selalu berkembang sehingga layanan broadband sudah dibutuhkan 2-3 tahun ke depan, termasuk LTE karena ada beberapa aplikasi yang hanya bisa dijalankan dengan baik oleh internet kecepatan tinggi (broadband),” ujar Budi.

Budi menyatakan operator juga harus menghitung biaya dan harga jual LTE agar tidak berulang seperti 3G. “Pengguna harus didorong menggunakan layanan LTE untuk kegiatan produktif dan kualitas hidup. Harus ada upaya sistematis meningkatkan kecerdasan tidak hanya untuk hiburan semata. Gadget juga harus murah berkaca dari kasus 3G, maksimal Rp1,5 juta ,” tegas Budi.

Namun apakah dengan diterapkannya teknologi internet kecepatan tinggi LTE di Indonesia beriringan dengan semakin murahnya tarif? “Tarif internet kecepatan tinggi menurut saya sudah murah, tetapi masalah yang utama adalah kualitas layanan. Jangan sampai gembar-gembor 4G LTE, tetapi hanya dapat 2G, bahkan lebih lambat. Tarif bukan murah tetapi harus reasonable,” ujar Budi.

Budi memandang tarif akan turun jika pemerintah dan pasar menghendaki. Operator dan vendor harus bisa meyakinkan pemerintah kebutuhan pasar yang benar-benar riil dari skema prediksi teknologi broadband di Indonesia. Menurutnya tarif internet bisa turun berdasarkan beberapa faktor pendukung.

“Tarif sebenarnya bergantung kepada efisiensi biaya, efektivitas energi, implementasi yang baik dan penerimaan yang kuat sehingga terjangkau. Area jangkauan juga harus diperhatikan jangan sampai mengecewakan,” tambahnya.

Aplikasi dan jenis layanan juga harus ramai. Tarif internet bisa saja turun jika faktor tersebut terpenuhi, namun yang paling penting adalah kualitas layanan broadband. “Pemerintah dan operator juga jangan sampai terlalu cepat karena jika salah maka investasinya akan terbuang dan harus kompatibel dengan keinginan konsumen,” pungkas Budi. [mdr]

Iklan