BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekolah sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan formal mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha mencerdaskan dan menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang berguna bagi nusa dan bangsa. Suatu upaya untuk mewujudkan harapan itu diperlukan sosok seorang pendidik yang profesionalisme.

Mendidik merupakan salah  satu tugas guru dalam upaya ikut menunjang dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945. Tugas guru yang tidak kalah pentingnya selain mendidik adalah memberikan bimbingan, pengarahan dan penyuluhan pada siswa agar dapat belajar dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Kegiatan layanan bimbingan di sekolah dewasa ini keberadaannya sudah menjadi suatu kebutuhan, karena semakin banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Guru merupakan orang yang terdekat dengan anak didik, maka disamping berperan sebagai penyampai materi pelajaran, seorang guru diharapkan selalu siap membantu siswa yang mempunyai masalah dengan proses belajarnya. Guru diharapkan peka dan tanggap terhadap masalah yang dihadapi oleh anak didiknya. Seorang guru hendaknya menguasai prinsip-prinsip dasar dalam kegiatan layanan bimbingan siswa seperti mengidentifikasi kasus, melakukan diagnosis, prognosis, memberikan bantuan, serta mengadakan tindak lanjut untuk pemecahan.

Studi kasus ini diterapkan kepada anak-anak yang lambat belajar, anak-anak yang mengalami penyimpangan tingkah laku, mengalami kesulitan belajar, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dilakukan sebagai usaha mencari cara yang sebaik-baiknya untuk membantu siswa agar mencapai prestasi belajar yang optimal sesuai dengan perkembangan siswa.

Dalam studi kasus ini praktikan sebagai calon guru mencoba untuk membahas dan menangani suatu masalah yang dihadapi oleh siswa di SMK NEGERI 10 Malang kelas X, serta berusaha mencari alternatif penyebab masalah, alternatif pemecahan masalah dan berusaha untuk mengadakan tindak lanjut demi perkembangan belajar dan kedewasaan anak.

B. Pengertian Studi Kasus

Pengertian studi kasus secara luas adalah upaya mengenal, memahami, dan memantapkan siswa kasus dengan cara mengidentifikasi, mendiagnosis, memprognosis, dam memberikan pemecahan yang dihadapi oleh siswa klien. Sedangkan pengertian Studi kasus atau yang biasa disebut juga dengan  layanan bimbingan siswa secara sempit dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:

  1. merupakan sebuah proses bantuan yang diberikan kepada anak didik yang dilakukan secara terus menerus supaya anak didik dapat memahami dirinya, sehingga dapat mengerahkan dirinya dan bertingkah laku wajar sesuai dengan keadaan lingkungan di sekolah sendiri, keluarga serta masyarakat. (Sukardi,1993)
  2. merupakan proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencari pemahaman dan pengarahandiri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga, serta masyarakat (Miller dalam Surya, 1975:25)
  3. merupakan suatu proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan sehingga memberikan manfaat bagi dirinya dan masyarakat. (Stoops, 1975).

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa studi kasus adalah usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan siswa yang mempunyai masalah. Dengan kata lain merupakan bentuk layanan yang bertujuan untuk mempelajari dan menyelidiki keadaan pribadi dan tingkah lakunya serta perkembangan seorang siswa dengan menggunkan teknik pengumpulan data yang bersifat integrasi dan komprehensif.

C. Tujuan Studi Kasus

Tujuan dari studi kasus yang akan dilakukan ini adalah:

  1. Mengenal kepribadian siswa yang dianggap mempunyai masalah.
  2. Mengenal latar belakang pribadi siswa yang dianggap mempunyai masalah.
  3. Mengidentifikasi jenis, sifat serta penyebab kesulitan belajar yang dihadapi.
  4. Mamahami dan menetapkan faktor-faktor penyebab permasalahan yang dihadapi siswa.
  5. Mencari dan menetapkan berbagai alternatif pemecahan masalah berdasarkan data dan informasi yang objektif dan lengkap, baik melalui cara preventif maupun kuratif.

D. Pentingnya Studi Kasus

Untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan prestasi belajar yang optimal, maka perlu diberikan layanan studi kasus siswa oleh guru sebagai pengelola program belajar mengajar dalam kelas. Dengan adanya studi kasus guru dapat mengetahui kekurangan yang ada, dan kemudian sekanjutnya berusaha memberikan layanan kepada siswa dengan lebih baik lagi.

Kegiatan studi kasus mempunyai arti yang sangat penting dalam rangkaian proses belajar mengajar di sekolah. Secara umum studi kasus ini dapat memberikan manfaat kepada siswa, calon guru, wali kelas, atau guru bimbingan konseling, kepala sekolah dan orang tua siswa. Adapun secara lengkap dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Siswa
    1. Dapat mengenal dan memahami dirinya sendiri dengan lebih baik.
    2. Dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajar.
    3. Mendapat bantuan untuk mengidentifikasi masalah dan upaya pemecahannya.
  1. Calon Guru

Pengalaman ini memberikan masukan dan bekal dalam usaha mengatasi masalah yang dialami siswa yang juga merupakan pengalaman praktis untuk menunjang profesionalisme sebagai guru di masa yang akan datang.

  1. Wali Kelas dan Guru BK

Studi kasus ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam rangka membimbing dan membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.

  1. Kepala Sekolah
    1. Bahan pertimbangan dalam monitoring keadaan siswa dan kemampuan guru, terutama berkaitan dengan studi kasus.
    2. Merupakan salah satu sumber informasi tentang siswanya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan menentukan kebijaksanaan tentang msalah siswa.
    3. Orang Tua
      1. Meningkatkan komunikasi antara orang tua dan sekolah sehingga dapat dihindari kesalahan atau kekeliruan dalam mendidik anak.
      2. Memberikan informasi tentang situasi dan kondisi anaknya disekolah pada umumnya, sehingga dengan informasi ini orang tua dapat mengendalikan dan membina anaknnya.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang lengkap dalam upaya membantu siswa kasus memecahkan masalahnya, praktikan mengumpulkan data dengan berbagai cara. Hal ini dimaksudkan agar data yang masuk dapat dipertanggungjawabkan keobyektifannya. Cara-cara yang dimaksud adalah dengan cara menggunakan berbagai metode. Adapun metode yang digunakan dalam hal ini adalah:

  1. Observasi

Metode ini digunakan untuk mengamati keadaan, sikap, dan tingkah laku siswa selama berada di lingkungan sekolah baik di luar maupun di dalam kelas.

  1. Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan cara mewawancarai langsung kepada siswa yang bersangkutan (bermasalah), teman sebaya, beberapa guru, wali kelas, dan guru BK.

  1. Angket

Angket digunakan untuk mengetahui identitas siswa kasus secara lengkap dan jenis masalah yang dihadapi. Praktikan memberikan angket atau daftar isian tentang data siswa yaitu:

a. Sosiometri

b. Checklist permasalahan

c. Checklist kebiasaan belajar

d. Siswa

F. Alasan Pemilihan Kasus

Alasan penulis untuk menetapkan pilihan Topan (fiktif) siswa kelas X SMK NEGERI 10 Malang sebagai klien adalah:

  1. Beradasarkan pengamatan, siswa kurang memperhatikan pada saat penyampaian materi, sering bercanda dengan teman pada waktu kegiatan belajar mengajar, dan jarang mengerjakan tugas.
  2. Berdasarkan informasi dari beberapa pihak, prestasi belajar siswa tersebut juga kurang memuaskan karena selalu berada di bawah rata-rata.

G. Konfidensialitas

Untuk memahami masalah yang sedang dihadapi oleh siswa diperlukan suatu pengumpulan data dari berbagai sumber dan aspek-aspek yang lengkap serta reliable atau dapat dipercaya. Hal ini penting untuk mendapatkan sebuah gambaran yang lengkap dan menyeluruh sehingga pada akhirnya bantuan yang diberikan akan tepat sasaran dan bermanfaat bagi siswa yang bermasalah tesebut. Adapun data-data yang diperlukan tersebut adalah data tentang diri siswa yaitu data yang berhubungan dengan diri siswa sendiri maupun lingkungan tempat tinggalnya.

Berkaitan dengan data siswa yang terkumpul maka praktikan bertanggung jawab untuk menjaga kerahasiaanya. Data yang bersifat rahasia tidak perlu diketahui oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan dengan layanan bimbingan siswa. Sehubungan dengan sifat kerahasiaan yang harus dijaga, yang telah disebutkan dalam kode etik konselor, maka nama dan identitas lain yang berhubungan dengan klien dibuat fiktif dengan tujuan agar klien tidak merasa malu atau dirugikan akibat diketahui oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Berpijak dari kode etik butir 1. 1. sub bab: Kegitan Profesional, dalam kode etik konselor Bab III yang tertulis dalam kode etik,

“ Catatan-catatan tentang diri siswa yang meliputi data hasil wawancara,testing, surat menyurat, perekaman, dan data-data lain, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk keperluan riset atau pendidikan calon guru pengajar, asalkan identitas siswa dirahasiakan ”.

BAB II

PEMBAHASAN

Sesuai Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) tahun ajaran 2009-2010, langkah-langkah dalam penyusunan kegiatan layanan bimbingan siswa ini ada enam tahap yaitu:

  1. Identifikasi kasus
  2. Sintesis
  3. Diagnosis
  4. Prognosis
  5. Pemberian bantuan, pemecahan (treatment)
  6. Tindak lanjut (follow up)

A. Identifikasi Kasus

Tujuan dari identifikasi kasus adalah untuk menentukan siswa yang mendapat masalah belajar Bahasa Inggris khususnya dan yang memerlukan bantuan atau penanganan untuk meningkatkan motivasi atau hasil belajarnya.

Dalam analisa ini penulis:

  1. Memperhatikan siswa atau siswi di dalam kelas apabila berlangsung kegiatan belajar mengajar.
  2. Memperhatikan siswa atau siswi yang kurang serius.
  3. Menetukan siswa atau siswi yang dianggap bermasalah.

Dari hasil observasi di dalam kelas, penulis menemukan ada siswa yang sering sekali bercanda, mengobrol bersama temannya pada waktu jam pelajaran Bahasa Inggris. Hal tersebut sangat menggangu sekali bagi seorang calon guru, terutama bagi proses belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu maka penulis menjadikan siswa tersebut sebagai siswa kasus.

Berdasarkan data yang dijaring dan teknik atau metode yang dilaksanakan dapat diperoleh data sebagai berikut:

  1. I. Data Berdasarkan Angket

Identifikasi Kasus

  1. Nama                                             : Topan (fiktif)
  2. Tempat dan tanggal lahir               : Malang, 22 Desember 1993 (fiktif)
  3. Jenis Kelamin                                : Laki-laki
  4. Agama                                           : Islam
  5. Suku Bangsa                                  : Jawa
  6. Alamat                                           : Jl. Kamboja No.46 (fiktif)
  7. Jumlah saudara kandung               : 2 (dua)

-       jumlah saudara laki-laki            : 1 (satu)

-       jumlah saudara perempuan       : -

  1. Anak ke-                                        : 2 (dua)
  2. Hobby                                            : Membaca cerpen/ novel
  3. Status                                             : Anak kandung

Identifikasi Orang tua (Ayah)

  1. Nama Ayah                                   : Carlo Ancellotti  (fiktif)
  2. Pendidikan terakhir                       : S1
  3. Agama                                           : Islam
  4. Pekerjaan                                       : Swasta
  5. Alamat                                           : Jl. Kamboja No. 46 (fiktif)

Identitas Orang Tua (Ibu)

a.  Nama Ibu                                       : Marry Jane (fiktif)

b.  Pendidikan terakhir                       : S1

c.  Agama                                           : Islam

d.  Pekerjaan                                       : Swasta

e.  Alamat                                           : Jl. Kamboja No. 46 (fiktif)

Riwayat Hidup

  1. Tahun lulus SD                              : 2005
  2. Tahun lulus SLTP                          : 2008
  3. Tahun masuk SMK                        : 2008
    1. Cita-cita                                         : Pengusaha, memiliki bengkel mobil sendiri

II. Data Berdasarkan Hasil Problem

Dari data checklist, didapatkan data sebagai berikut:

  1. Kesehatan
  1. Sering merasa pening
  2. Pernah mendderita sakit
  3. Tidak dibiasakan mendapatkan uang saku
  4. Tamat SMK tidak melanjutkan karena biaya
  5. Rumah
    1. Saya sudah tidak punya ayah
    2. Saya sudah tidak punya ibu
    3. Dirumah merasa tidak disenangi
    4. Kurang senang dengan tingkah laku orang rumah
    5. Saya tidak puas dengan keadaan saya sekarang
      1. Di rumah merasa diabaikan
      2. Orang tua sering tidak mengerti
      3. Merasa tidak betah di rumah
      4. Merasa kurang puas dengan kehidupan sekarang
      5. Sering berdusta
      6. Sering tidak mengakui kesalahan
      7. Sering tidak jujur
      8. Hampir tidak mempunyai waktu untuk rekreasi
      9. Keinginan untuk berekreasi sering terhalang
      10. Gemar nonton film/band
      11. Ingin belajar menyanyi
        1. Merasa tidak disenangi kawan
        2. Sukar menyesuaikan diri
        3. Bersifat pemalu
        4. Mudah tersinggung
        5. Ada sifat marah
          1. Ingin mengetahui bakat dan kemampuan yang sebenarnya
          2. Belajar dengan waktu yang tidak teratur
          3. Susah memahami pelajaran yang saya pelajari
          4. Sulit memulai untuk belajar
          5. Dalam belajar lekas merasa lelah
          6. Malas belajar
          7. Ada pelajaran sehari-hari yang berat
          8. Sulit memahami sendiri isi buku
          9. Sering merasa gugup saat dapat giliran
          10. Sukar mengerjakan tugas guru
          11. Bercinta adalah bagian dari hidup saya
            1. Sering terganggu oleh rasa cemburu
            2. Bercinta dimasa sekolah dapat memberi dorongan
            3. Saya mulai tertarik pada salah satu teman
            4. Saya pernah patah hati dalam bercinta
            5. Berkhayal tentang addegan difilm
  1. Keadaan Hidup (KEHIDUPAN)
  1. Keadaan Di Rumah
  1. Agama dan Moral
  1. Rekreasi/ Olahraga/ Hobby
  1. Hubungan Sosial
  1. Cita-cita
  1. Sekolah dan Pengajaran
  1. Asmara

III. Data Berdasarkan Wawancara

Setelah pengisian angket maka diadakan wawancara kepada klien yang merupakan salah satu cara untuk mendapatkan data dari siswa. Dari hasil wawancara diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Orang tua/wali murid kurang peduli
  2. Jarang berkomunikasi dengan orang tua/wali murid
  3. Tidak ada uang saku
  4. Ada teman di kelas yang kurang disukai
  5. Merasa tidak betah di rumah
  6. Ingin melanjutkan kuliah tapi tidak ada biaya
  7. Teman sebangkunya sebagai tempat curhatnya.
  8. Kurang suka dengan salah satu guru karena guru tersebut mengadakan ulangan mendadak dan dianggap kurang memahami kondisi siswa.

IV. Hasil Observasi

Dari hasil observasi di dalam kelas dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

  1. Siswa kasus sering bingung ketika pelajaran sedang berlangsung.
  2. Siswa kasus kurang bersemangat, sering merasa bosan pada waktu pelajaran di kelas.

B. Sintesis

Dalam tahap ini dilakukan perangkuman dan menyimpulkan data yang telah diperoleh, diidentifikasi dan dianalisis. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang siswa kasus yang meliputi kelemahan dan juga kelebihan yang dimiliki siswa kasus. Dari data yang dikumpulkan dengan mengaitkan seluruh data yang relevan dengan masalah siswa kasus dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. 1. Kelebihan
  2. Memiliki sarana belajar yang memadai (punya meja belajar, ruang belajar dan buku pelajaran sendiri)
  3. Siswa kasus selalu berusaha sendiri dalam mengerjakan tugas maupun ulangan.
  4. Sadar akan kebutuhan belajar
  5. Siswa kasus mempunyai nilai yang baik terutama pada mata pelajaran teknik.
    1. 2. Kekurangan :
    2. Di kelas siswa kasus sering merasa kurang bersemangat ketika mengikuti pelajaran.
    3. Menganggap sesuatu terlalu serius
    4. Sering bingung
    5. Sering merasa lelah
    6. Merasa mudah tersinggung
    7. Cepat merasa bosan dalam belajar
    8. Sulit untuk belajar bersama teman-teman

C. Diagnosa

Diagnosa merupakan kegiatan yang diambil untuk menetukan letak masalah, jenis masalah serta latar belakang masalah yang sedang dihadapi siswa. Oleh karena itu, berikut akan dijabarkan secara rinci mengenai hasil dari diagnosa yang dilakukan penulis.

  1. 1. Letak kesulitan :
  2. Sifat kebiasaan
  3. Cita-cita siswa kasus
  4. Hubungan sosial
  5. Dalam hal ulangan
  6. Kebiasaan belajar
    1. 2. Jenis Kesulitan :

a.      Sifat kebiasaan :

  • Sering kehilangan kesabaran
  • Sering melamun
  • Takut membuat kesalahan
  • Kurang percaya diri
  • Sulit mengambil keputusan
  • Kurang lancar dalam berbicara
  • Takut bicara dalam diskusi
  • Merasa asing

b. Cita-cita :

  • Sulit untuk memilih jurusan yang tepat
  • Ingin mengetahui bakat dan kemampuan yang sebenarnya

c. Hubungan sosial :

  • Sulit menyesuaikan diri
  • Merasa mudah tersinggung

d. Ulangan :

  • Sering merasa kurang percaya diri
  • Kurang teliti dalam mengerjakan ulangan

e.      Kebiasaan belajar :

  • Cepat merasa bosan dalam belajar
  • Tidak bisa belajar tanpa makan-makan
  1. 3. Latar Belakang Masalah :

Sifat kebiasaan siswa kasus adalah menganggap sesuatu terlalu serius. Siswa kasus tidak dapat membedakan mana yang seharusnya berpikir secara serius dan mana yang tidak. Selain itu, siswa kasus juga sering melamun terutama pada saat berlangsungnya pelajaran.

Siswa kasus mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang Pengacara, menjadi pengusaha karaoke & billiard terbesar di kota.

Dalam menghadapi ulangan, siswa kasus sering merasa kurang percaya diri atas jawaban pada ulangan yang sedang ia hadapi sehingga pada saat ulangan sering mencontek temannya. Serta ia juga kurang teliti dalam mengerjakan soal-soal ulangan tersebut. Hal ini dikarenakan siswa kasus kurang percaya diri, sehingga waktunya terbuang untuk memikirkan apakah hasil jawaban ulangannya tersebut sudah benar atau belum habis untuk mencontek pekerjaan temannya.

Dalam kebiasaan, siswa kasus sering kehilangan kesabaran. Sangat sulit bagi siswa kasus untuk belajar bersama teman-temannya. Karena menurut siswa kasus, ia lebih mudah berkonsentrasi dengan belajar sendiri daripada harus belajar bersama teman-temannya. Dalam belajar bersama teman-temannya, ia kurang merasa nyaman karena ia merasa tersaingi dengan teman yang lain, dan ia merasa pendapatnya kurang begitu dianggap oleh teman-temannya dalam belajar kelompok. Selain itu juga siswa kasus takut membuat kesalahan, kurang percaya diri, sulit menganbil keputusan, kurang lancar dalam berbicara saat diskusi.

D. Prognosa

Prognosa adalah suatu langkah untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan akibat siswa kasus tidak segera mendapatkan bantuan. Kalau penulis perhatikan, bantuan harus seksama berdasarkan hasil identifikasi kasus dan diagnosa, yaitu menjadi penyebab permasalahan atau kasus yang dialami oleh siswa kasus, sehingga kalau masalah ini tidak segera diatasi, maka kemungkinan yang akan terjadi pada diri siswa kasus adalah sebagai berikut:

  1. Konsentrasi belajarnya tidak optimal
  2. Prestasi belajarnya akan menurun
  3. Dapat menyebabkan siswa kasus tidak naik kelas
  4. Siswa kasus akan dijauhi oleh teman-temannya
  5. Tidak dapat mencapai cita-citanya

Akan tetapi, jika kemungkinan tersebut di atas dapat segera diatasi maka yang akan terjadi adalah sebagai berikut :

  1. Konsentrasi belajar siswa kasus akan optimal
  2. Prestasi belajar siswa kasus akan naik
  3. Siswa kasus akan naik kelas
  4. Siswa kasus tidak akan dijauhi oleh teman-temannya
  5. Cita-cita siswa kasus akan tercapai

E. Pemberian Bantuan (Treatment)

Tujuan dari tahap pemberian bantuan ini adalah untuk memberikan bantuan kepada siswa agar dapat menyelesaikan masalah kesulitan belajarnya sehingga dapat mencapai hasil yang optimal dan penyesuaian yang sehat.

Setelah diketahui masalah siswa, faktor-faktor penyebab timbulnya masalah serta kemungkinan jika masalah siswa diatasi dan tidak diatasi maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan langkah inti yaitu pemberian bantuan (treatment).

Langkah-langkah untuk membantu siswa kasus dalam memecahkan masalah:

  1. I. Masalah yang Dihadapi Oleh Siswa Kasus

1. Sifat kebiasaan :

  • Ø Sering kehilangan arah
  • Ø Sering melamun
  • Ø Takut membuat kesalahan
  • Ø Kurang percaya diri
  • Ø Sulit mengambil keputusan
  • Ø Kurang lancar dalam berbicara
  • Ø Takut bicara dalam diskusi
  • Ø Merasa malas

2. Cita-cita :

  • Ø Ingin mengetahui bakat dan kemampuan yang sebenarnya.

3. Hubungan sosial :

  • Ø Sulit menyesuaikan diri
  • Ø Merasa mudah tersinggung

4. Ulangan :

  • Ø Sering merasa kurang percaya diri
  • Ø Kurang teliti dalam mengerjakan ulangan

5. Kebiasaan belajar :

  • Ø Cepat merasa bosan dalam belajar
  • Ø Tidak bisa belajar tanpa makan-makan

II. Rencana Bantuan

Rencana bantuan yang akan diberikan berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa:

1. Masalah sifat kebiasaan, bantuan yang akan diberikan :

a.    Menganjurkan pada siswa kasus untuk dapat memilah-milah mana yang seharusnya dianggap serius dan mana yang seharusnya tidak dianggap serius.

b.    Menganjurkan pada siswa kasus agar jangan terlalu sering diam. Daripada diam lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat.

c.    Menganjurkan pada siswa kasus agar pada saat berdiskusi dapat mengutarakan pendapatnya.

d.    Memotivasi siswa kasus agar berani mengemukakan pendapat apabila penjelasan guru  kurang jelas.

2.  Masalah cita-cita siswa kasus, bantuan yang akan diberikan :

  1. Menganjurkan pada siswa kasus untuk memilih jurusan yang sesuai dengan minat siswa kasus cita-citanya dapat tercapai.
  2. Memotivasi siswa kasus untuk dapat mengutarakan kepada orang tuanya apa yang menjadi cita-cita siswa kasus.
  3. Menganjurkan orang tua siswa kasus untuk memberikan dukungan dan motivasi sehingga dapat mengarahkan cita-cita anaknya.

3.  Masalah hubungan sosial, bantuan yang akan diberikan :

a.    Memotivasi siswa kasus untuk dapat menyesuaiakan diri dengan teman-temannya di dalam maupun di luar kelas atau di luar sekolah. Dengan demikian siswa kasus akan mempunyai banyak teman dan siswa kasus dapat supel dalam bergaul.

b.    Menganjurkan pada siswa kasus agar dapat mengontrol emosinya.

4.  Masalah ulangan, bantuan yang akan diberikan :

a.    Meyakinkan siswa kasus bahwa rasa percaya diri harus ditumbuhkan dalam benaknya, terutama pada saat ia menghadapi ulangan. Siswa kasus harus yakin bahwa apa yang ia jawab dalam ulangan adalah jawaban yang paling benar.

b.    Menganjurkan siswa kasus hendaknya ia lebih teliti lagi dalam mengerjakan soal pada saat ulangan. Dengan demikian nilai ulangannya tidak ada yang dibawah rata-rata.

5.  Kebiasaan belajar, bantuan yang akan diberikan :

a.    Menganjurkan pada siswa kasus bahwa dengan belajar bersama teman-teman banyak sekali keuntungan yang dapat diperolehnya. Selain mengurangi rasa kebosanan juga dapat mengakrabkan diri siswa kasus, ia juga dapat bertukar pendapat dengan teman belajarnya, dengan demikian wawasan siswa kasus akan bertambah.

b. Menganjurkan pada siswa kasus agar dalam belajar jangan dibiasakan untuk makan, karena belajar sambil makan kosentrasi dalam belajar akan jadi berantakan sehingga siswa kasus tidak bisa belajar dengan sungguh-sungguh.

III. Bantuan yang Telah Diberikan/Dilaksanakan

1.  Masalah sifat kebiasaan

a.    Menganjurkan pada siswa kasus untuk dapat memilah-milah mana yang seharusnya dianggap serius dan mana yang seharusnya tidak dianggap serius.

b.    Menganjurkan pada siswa kasus agar jangan terlalu sering melamun. Daripada melamun lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat.

2.  Masalah cita-cita siswa kasus

  1. Menganjurkan pada siswa kasus untuk memilih jurusan yang sesuai dengan minat siswa kasus cita-citanya dapat tercapai.
  2. Memotivasi siswa kasus untuk dapat mengutarakan kepada orang tuanya apa yang menjadi cita-cita siswa kasus.

3.  Masalah hubungan sosial

a.    Memotivasi siswa kasus untuk dapat menyesuaiakan diri dengan teman-temannya di dalam maupun di luar kelas atau di luar sekolah. Dengan demikian siswa kasus akan mempunyai banyak teman dan siswa kasus dapat supel dalam bergaul.

b.    Menganjurkan pada siswa kasus agar dapat mengontrol emosinya.

4.  Masalah ulangan

a.    Meyakinkan siswa kasus bahwa rasa percaya diri harus ditumbuhkan dalam benaknya, terutama pada saat ia menghadapi ulangan. Siswa kasus harus yakin bahwa apa yang ia jawab dalam ulangan adalah jawaban yang paling benar.

b.    Menganjurkan siswa kasus hendaknya ia lebih teliti lagi dalam mengerjakan soal pada saat ulangan. Dengan demikian nilai ulangannya tidak ada yang dibawah rata-rata.

5.  Kebiasaan belajar

a.    Menganjurkan pada siswa kasus bahwa dengan belajar bersama teman-teman banyak sekali keuntungan yang dapat diperolehnya. Selain mengurangi rasa kebosanan juga dapat mengakrabkan diri siswa kasus, ia juga dapat bertukar pendapat dengan teman belajarnya, dengan demikian wawasan siswa kasus akan bertambah.

b. Menganjurkan pada siswa kasus agar dalam belajar jangan dibiasakan untuk makan, karena belajar sambil makan kosentrasi dalam belajar akan jadi berantakan sehingga siswa kasus tidak bisa belajar dengan sungguh-sungguh.

IV. Bantuan yang Belum Terlaksana

Usaha bantuan yang tidak terlaksana adalah kunjungan ke rumah klien karena keterbatasan waktu.  Selain itu juga bimbingan kelompok, hal ini tidak dapat terlaksana karena bantuan ini memerlukan banyak orang yang memiliki masalah yang serupa dengan masalah siswa dan diperlukan pengaturan waktu dari peserta bimbingan kelompok sehingga tidak ada yang dirugikan waktunya. Hambatan yang dialami praktikan adalah keterbatasan waktu dalam kegiatan  Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

F. Tindak Lanjut (Follow Up)

Tindak lanjut (follow up) adalah usaha yang dilakukan oleh penulis untuk mengetahui perkembangan siswa kasus setelah selesai diberikan bantuan. Langkah instrumen penelitian ini merupakan langkah untuk menilai keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa kasus untuk mengikuti diri siswa kasus, apakah bantuan yang diberikan kepada siswa kasus memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Kegiatan ini memerlukan waktu yang cukup lama, karena itu peranan konselor, wali kelas, guru bidang studi sangat diperlukan untuk menentukan perkembangan siswa kasus dengan senantiasa memantau perkembangan siswa kasus.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah :

  1. Melimpahkan masalah tersebut kepada wali kelas maupun kepada guru bidang studi yang bersangkutan agar selalu memonitor dan terus memberikan layanan kepada siswa kasus tersebut.
  2. Memberikan motivasi kepada siswa kasus untuk selalu giat belajar sehingga prestasi belajar yang telah diraihnya dapat dipertahankan.
  3. Menyarankan kepada orang tua atau wali siswa kasus agar senantiasa memberikan perhatian kepada putra-putrinya, khususnya dalam belajar serta memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar dengan baik. Selain itu, orang tua juga perlu mendukung keinginan siswa yang berhubungan dengan cita-citanya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari beberapa uraian diatas, dapat diambil kesimpulan antara lain:

  1. Layanan studi kasus kesulitan belajar bidang studi adalah upaya mengenal, memahami dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar bidang studi, dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis, memprognosis, dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah.
  2. Langkah-langkah yang digunakan dalam layanan studi kasus kesulitan belajar terdiri dari: identifikasi, analisis data, sintesis, diagnosis, prognosis, pemberian bantuan/treatment, dan tindak lanjut/follow up.
  3. Klien mengalami kesulitan belajar karena kurangnya minat dan motivasi untuk belajar, selain itu klien tidak mau bertanya apabila ada mata pelajaran yang kurang dimengerti. Klien sering malas belajar, sering merasa mengantuk dan kurang berkonsentrasi dalam pelajaran.
  4. Bantuan yang diberikan kepada klien bertujuan untuk membantu menyelesaikan masalah belajar di sekolah, masalah kebiasaan belajar, masalah pergaulan social, dan masalah psikologis.
  5. Hasil yang diperoleh setelah diberi bantuan yaitu klien mulai memperhatikan penjelasan dari guru pada waktu pelajaran .

B. Saran

Berdasarkan hasil pemberian layanan bimbingan kesulitan belajar siswa ini, beberapa saran  antara lain:

  1. Saran Bagi Konselor
    1. Konselor hendaknya sesegera mungkin menindaklanjuti klien dan permasalahannya atas dasar studi kasus ini, sehingga perubahan klien semakin optimal dan studi kasus ini semakin maksimal.
    2. Konselor hendaknya melaksanakan pelancaran instrument testing untuk memperlengkap data klien, sehingga data klien yang terkumpul lebih komprehensif.
    3. Konselor harus dapat menjaga kode etik jabatan terutama berkaitan dengan penggunaan data dari studi kasus ini, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, terutama klien.
    4. Saran Bagi Orang tua Klien atau Wali Murid
    5. Saran Bagi klien
  1. Orang tua klien hendaknya mengajak klien untuk tinggal bersama keluarga sehingga terjalin komunikasi yang efektif dan memudahkan kontrol terhadap klien.
  2. Orang tua klien hendaknya meningkatkan hubungan komunikasi yang efektif dengan klien sehingga klien dapat berkembang secara optimal.
  3. Orang tua klien hendaknya lebih memperhatikan kebutuhan klien terutama kebutuhan psikis, sehingga didapat pemahaman tentang klien untuk mencegah permasalahan yang dialami klien semakin melebar.

Klien hendaknya lebih bisa kooperatif dengan praktikan, konselor ataupun orang-orang yang dapat membantu pemecahan masalah klien sehingga memudahkan proses penyelesaiaan  masalah.

DAFTAR RUJUKAN

Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Pengantar Pelayanan Bimbingan di Sekolah, Jakarta

Depdikbud, 1974, Bimbingan Penyuluhan untuk PPSP. Balitang Depdikbud, Jakarta : PPSP Seri BP 001

Djumhur I dan Muhammad Surya, 1975, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung : CV Ilmu

Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling . Jakarta : P.T Gramedia Pustaka Utama

Rosijan. 1990. Pandangan para Siswa dan Guru terhadap Perilaku Negatif Remaja Malang : IKIP MALANG

Subiyanto. 1985. Evaluasi Belajar Bekal untuk Guru. Malang : IKIP MALANG

UPT PPL. 2007. Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Keguruan. Malang : Universitas Negeri Malang

Walgito, Bimo. 1985. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM

Winkel, W.S. 1981. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta : Gramedia

About these ads